Antara Fiksi dan Fiktif

Share

fiksi fiktif

Sekarang Netizen lagi rame asiknya membahas Fiksi dan Fiktif. Ane pun ikut nyebur menyelami sambil nyari yang pas mana yang layak diadopsi dan ditulis ulang disini. Akhire nemu tulisan sdr Priyo Djatmiko yang asik nan kental gurih-gurih inyoy 😁 Silahken cekidot⬇


FIKSI

Hawari-hawari nabi isa yang terusir dan dikejar-kejar oleh penguasa waktu itu, menulis ajaran-ajaran gurunya yang mereka terima dahulu sewaktu gurunya masih hadir. Jadi penulisan tersebut berdasar ingatan, menggunakan sudut pandang orang ketiga, ditulis dalam suasana yang tak tentu, tak rapi dan kondisi hati mencekam. Para penulis itu sendiri terpencar-pencar dan bekerja, mengajar, menulis dan lari secara individual. Sebagian dari mereka meninggal sebagai syahid. Sebagiannya meninggalkan murid dan pengikut yang kemudian juga menuliskan ajaran-ajaran guru dan pengalamannya.

Menggunakan paradigma dan kritik ala modernitas, dengan segera akademisi di barat menemukan fakta ketakselalu-sinkronan dan.ketakverbatiman isi catatan-catatan tersebut. Untuk keluar dari kesulitan, diajukan penjelasan bahwa penulisan tersebut bukanlah reportase jurnalistik, bukan penulisan kitab hukum, bukan pendiktean buku ajar. Penulis-penulisnya, yang kita sebut hawari itu, demikian penjalasan teolog-teolog di barat, adalah sosok-sosok agung yang mendapatkan inspirasi (ilham, firasat, kasyaf, rukya) sehingga (ditambah dengan fakta tribulasi dan eksodus yang berat) menjadi wajarlah jika terdapat banyak makna-makna simbolik di dalam catatan-catatan tersebut yang untuk mengurainya perlu alat dekonstruksi dan hermeneutik.

Makna simbolik dan suasana hati yang mistik dan transenden tersebut itulah yang coba ditampilkan oleh filsuf UI dengan istilah fiksi yang bukan fiktif. Tapi itu berlaku pada cerita di atas. Bagaimana dengan kitab suci umat islam? Padanan dalam bahasa kita mungkin adalah fiksi=tamtsil dan fiktif= kadzib. Bagaimanapun juga kitab suci umat muslim diyakini (dan dibuktikan sesuai tariqah pembuktiannya) lafdzhan dan ma’nan adalah kalamullah. Kecuali disebutkan olehnya sendiri bahwa kisah atau ibarat tertentu adalah tamtsil, baik dikatakan fiksi atau fiktif, yang semuanya berimplikasi tidak nyata, tidak tepat untuk menggambarkan kedudukan al Quran di hati orang beriman.

Memang ada orang orang semacam muhammad khallaf, nasr abu zaid, adonis, dan mirza ghulam dari dunia islam yang mengatakan kisah (qashash) dalam quran khayal (fiksi?) dan semuanya dianggap blasphemy di negerinya, kecuali adonis yang mungkin karena satu faktor: per definisi formal dia memang bukan muslim dan mengajukannya dalam konteks pemikiran sastra.

Jika ada pertanyaan: apakah prof filsafat UI itu melakukan satu blasphemy? Saya meyakini dalam kasus ini tidak karena dia sedang mengemukakan keyakinannya atau teorinya belaka, yang jika salah itu hal biasa. Membuktikan itu bukan blasphemy tak sulit. Yang sulit adalah uji konsistensi, bagaimana kita menentukan suatu itu blasphemy yang layak ditindak demi menjaga agama (dalam perspektif kita) atau demi kestabilan dan kerekatan sosial (dalam perspektif negara sekuler)? Yang saya yakini, menolak sesuatu tidak ada karena sulit mendefinisikan batas itu adalah suatu falasi. Namun kesulitan penerapan prinsip ini dalam hukum positif memang riil dan situasinya sangat tidak sehat. Ketidaksehatan sosial dan hukum.

Tapi jangan mereduksi pula ketidaksehatan ini semata berakar dari keruwetan hubungan negara dan agama atau kompleksitas aspirasi agama ke ruang publik yang menjadi dalil sekuler untuk menjauhkan sama sekali aspirasi agama atas ruang publik bersama. Sebab keruwetan ini lebih luas dari itu. Kini setiap orang bisa saling melaporkan penjara atas ucapan, tulisan dan.tindakan atas perkara-perkara yang dulu kita bisa menyelesaikannya dengan kekeluargaan (sayangnya frasa “diselesaikan dengan kekeluargaan” memang telanjur mengalami peyorasi) dan ini tidak sehat. Kasus-kasus itu banyak di luar topik agama jadi ini bukan soal hubungan agama dengan ruang publik.

NB. Kalau mau jujur, kbbi memang bukan panduan untuk memahami arti kata asli yang diserap. Ini banyak terjadi di bhs serapan dari arabic, terjadi.juga di sini.

Arti etimologi fiksi yg paling asli, lihat di sini
https://www.etymonline.com/word/fiction…

Arti etimologi asli dari fiktif, lihat di sini
https://www.etymonline.com/word/fictitious…

Dgn demikian penjelasan dia atas pembedaan fiksi dgn fiktif itu tepat bahkan dalam sekali. Juga ketika membedakan antara dusta dgn fiksi.

Tapi sayangnya yg manapun juga, arti itu tak tepat bagi al quran di sisi orang islam.

This entry was posted in iNfo and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Get Adobe Flash player