CANTIKNYA DULU ATAU AGAMANYA DULU?

Share

CANTIKNYA DULU ATAU AGAMANYA DULU?

Hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa salam yang berbunyi تُنْكَحُ المَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَدَاكَ yang artinya “Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari & Muslim). Hadits tersebut bukanlah bermakna tidak boleh mencari seorang wanita yang elok dan cantik untuk dinikahi, namun semata-mata hanya faktor agama saja yang menjadi persyaratan mutlak dalam memilih pendamping hidup.

Lantas apa maksud dari hadits tersebut? Sesungguhnya tujuan dari pernikahan itu adalah dapat tertundukkannya pandangan (mencukupkan hanya memandang wajah sang istri) beserta terjaganya kemaluan. Maka apabila seorang laki-laki yang menikahi wanita yang tidak cantik atau tidak sesuai dengan seleranya, maka sungguh dia tidak akan bisa memelihara dan menjaga dirinya.

Faktor kecantikan dalam diri wanita itu diperlukan, hal ini diperkuat dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: «أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ؟». قَالَ: «الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا، وَلَا فِي مَالِهِ»

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallahu ‘alaihi wa salam bersabda: Nabi shallahu ‘alaihi wa salam pernah ditanya, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab: “Yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, taat jika diperintah suaminya dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya.” (HR. Nasa’i)

Kesenangan bagi kaum lelaki adalah dapat memandang kaum wanita, dan hal pertama kali yang mendatangkan daya tarik kesenangan tidak lain dan tidak bukan adalah kecantikan wajahnya, setelah itu baru sikap dan budinya.

Dan inilah dalil secara umum yang mendukung untuk mencari kecantikan (wajah) pada diri wanita:

يَخْتَارُ الْجَمِيلَةَ؛ لِأَنَّهَا أَسْكَنُ لِنَفْسِهِ، وَأَغَضُّ لِبَصَرِهِ، وَأَكْمَلُ لِمَوَدَّتِهِ، وَلِذَلِكَ شُرِعَ النَّظَرُ قَبْلَ النِّكَاحِ

“Hendaknya ia memilih wanita yang cantik agar hatinya lebih tentram serta ia lebih bisa menundukkan pandangannya dan kecintaan (mawaddah) kepadanya akan semakin sempurna. oleh karena itu ia dianjurkan nadzor (melihat calon istri) sebelum dinikahi. (Al Mughni: 7/109)

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan:

إذَا خَطَبَ رَجُلٌ امْرَأَةً سَأَلَ عن جَمَالِهَا أَوَّلًا، فَإِنْ حُمِدَ سَأَلَ عن دِينِهَا، فَإِنْ حُمِدَ تَزَوَّجَ، وَإِنْ لم يُحْمَدْ يَكُونُ رَدُّهُ لِأَجْلِ الدِّينِ. وَلَا يَسْأَلُ أَوَّلًا عن الدِّينِ، فَإِنْ حُمِدَ سَأَلَ عن الْجَمَالِ، فَإِنْ لم يُحْمَدْ رَدَّهَا؛ فَيَكُونُ رَدُّهُ لِلْجَمَالِ لَا لِلدِّينِ

“Apabila seorang lelaki ingin melamar seorang perempuan, maka tanyakanlah dulu tentang kecantikannya. Jika wanita tersebut dipuji kecantikannya, baru kemudian tanya tentang agamanya. Jika (agamanya) bagus maka ia nikahi. Tapi jika tidak bagus, maka ia menolak wanita tersebut karena agamanya (yang tidak bagus).

Dan janganlah bertanya tentang agamanya terlebih dahulu, jika (agamanya) bagus, kemudian baru ia bertanya tentang kecantikannya. Jika ternyata tidak cantik, kemudian ia menolaknya, maka ini berarti penolakannya adalah karena kecantikan bukan karena agama.” (Al Inshaf lil Mardaawiy: 19/8)

Dan para syabab (pemuda) hari ini melakukan kebalikannya, mereka pertama kali bertanya tentang agama wanita yang akan dipinang atau dinikahi. Mereka bertanya tentang shalatnya, puasanya dan hal lain terkait agama. Baru setelah itu bertanya (melihat) kecantikannya. Setelah dilihat dan tidak sesuai selera, maka ditinggalkannya wanita tersebut.  Jika demikian kondisinya, maka ini merupakan bentuk penerimaan dan penolakan (pernikahan) bukan karena faktor agama. Akan tetapi, karena faktor kecantikan. Dan ini merupakan kekeliruan!  Imam Ahmad rahimahullah mengajarkan kepada manusia untuk mempraktekkan hadits dengan menolak menikahi wanita dikarenakan alasan agamanya. Hal ini menunjukkan dari Imam Ahmad bahwa kecantikan adalah sesuatu yang diperlukan. Sesuatu yang bersifat fithrah dan diinginkan oleh setiap laki-laki.

Diterjemahkan secara bebas dari tulisan Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul.
Link: http://mohammadbazmool.blogspot.ae/2014/11/blog-post_61.html


Oleh Muhammad Fikri Hidayatullah

This entry was posted in Tips N Trik and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Get Adobe Flash player