Di belakangku

Share

Aku ingin sekali berteriak. Tapi tidak pada mereka yang sedang istirahat.
Aku ingin sekali menangis. Tapi tidak pada mereka yang sedang bergembira.
Aku ingin sekali menampar. Tapi benar pada yang disebut pecundang.

Tahukah kalian apa itu pecundang?. Menurut kamus ini, pecundang ialah orang yang menghasut.

Ada sebuah kisah dimana seorang lelaki mempunyai rasa ketertarikan pada seorang perempuan… (hal ini sungguh wajar) gak pake lah. -belum selesai-……yang sudah memiliki pasangan…..(emm ini sungguh kurang ajar) -belum selesai-….yang hampir ingin menikah (pake kurang ajar banget!), dan lelaki tersebut sudah mengetahuinya.

How?

Maka saya menyebutnya Pecundang. Jika subjek diatas seorang laki-laki, jadilah lelaki pecundang. Atau sebaliknya. Entah kenapa laki-laki tersebut tidak mengindahkan status perempuan tersebut yang memang sudah memiliki pasangan (dan juga mau menikah). Ada yang tau alasannya?. Mungkin…;

  1. Melihat kemampuan, apakah lelaki ini masih bisa menggunakan trik-trik untuk menghasut, mendekati, bahkan sampai mendapatkan perempuan yg ditaksirnya.
  2. Sudah mengetahui posisi target perempuan, jika si target menganut paham LDR-lisme dengan pasangannya, maka tidak masalah bagi lelaki pecundang ini untuk menggunakan trik seperti point 1 diatas.
  3. Sudah jadi habbit, kalo memang jenis lelaki pecundang ini menyukai perempuan yang sudah ada pasangannya. memangnya di dunia ini cewek cuman satu apa, tepok jidat
  4. Masa bodo, jika lelaki pecundang ini tersakiti (semisal cemburu) yang penting bagi dirinya tidak melihat secara langsung wajah beserta penampakan atau subjek dari pasangan perempuan tersebut didepan matanya.
  5. Sang perempuan sedikit ikut dalam game lelaki pecundang tersebut, ikut tapi tidak sampai melebihi kapasitasnya yang sudah memiliki pasangan. Hal ini bisa didapati, jika sang perempuan mulai bosan berinteraksi dengan pasangannya atau sedang mendapat masalah. Kemudian iseng menjadikan lelaki pecundang ini teman ngobrol. Bahayanya jika sudah merasa nyaman ini akan berlanjut sampai ke jenjaaaang…. ah entahlah. Kalian bisa menebaknya sendiri. Lagi dan lagi, berawal dari iseng.

Dan pada akhirnya lelaki pecundang itu tidak gentleman, berani lewat belakang tapi tidak berani berhadap-hadapan.

“BRAAAAAAAKKKKKKK!!!”, Aku pun menampar sebuah kaca. Lega.

 

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

One Comment

  1. Posted December 5, 2013 at 7:32 am | Permalink

    kenapa harus ada sikap pecundang ya,,coba tidak ada .hehehe

Leave a Reply

Get Adobe Flash player