Hukum Menghisap Leher Istri Ketika Berjima’

Share

Kebetulan Malem Jum’at dan kebetulan juga ini web jarang banget di update fiuhh…. Untuk sementara saya share saja lah dari tulisan atau postingan Ustadz Tommi Marsetio, demi menghidupkan kembali web ini . Soale terindeks sebagai blog yang gagal update alias kere artikel hahahahh pffttt

simak langsung saje, khusus yang udah nikeh yeee

[Hukum Menghisap Leher Istri Ketika Berjima’ (Bahasa Kita : Nyupang)]

Markaz Fatawa Islamweb ditanya :

ما حكم مص رقبة الزوجة من طرف زوجها بقصد إتيان الشهوة، وفي بعض الأحيان يصبح مكان المص لونه أزرق، ما حكم الشرع في هذا وخصوصا إذا قدم أهلها لزيارتها فقد يكون شيء محرجا للغاية، وإذا كان الجو حارا جداً لا تستطيع وضع شيء على رقبتها؟

Apa hukumnya menghisap leher istri bagi suami dengan maksud memuaskan syahwat keduanya? Dan terkadang pada beberapa kesempatan, di tempat menghisap tersebut timbul bekas berwarna biru, apa hukum syar’i terkait hal ini? Terkhusus jika datang keluarga istri untuk mengunjunginya, maka (bekas ini) sungguh akan menimbulkan perasaan yang tidak enak, terlebih jika udara terasa sangat panas dan istri tidak mampu mengenakan sesuatu untuk menutupi lehernya.

Dijawab :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد

فقد ذكرنا في أكثر من فتوى أنه يجوز لكل من الزوجين أن أن يستمتع بالآخر كيف شاء، لكن بشرط أن يتجنبا مواطن الحرمة، وهما الوطء في الدبر أو القبل أثناء الحيض والنفاس، وراجعي الفتوى رقم: 1974.

وعلى هذا فلا حرج على الزوج أن يمص رقبة زوجته أو نحوها ما لم يصل ذلك إلى الإضرار أو الأذى، فإن بقي أثر ذلك المص بادياً وسئلت عنه فيمكنها أن تتخذ المعاريض ولا تصرح بحقيقة الأمر.

والله أعلم

Alhamdulillah, shalawat serta salam selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, keluarganya serta para sahabatnya. Amma ba’d.

Kami telah menyebutkan terkait hal ini pada banyak fatwa kami bahwasanya dibolehkan atas sepasang suami istri untuk saling menikmati satu dengan yang lain sekehendaknya, namun dengan syarat agar menghindari tempat-tempat yang diharamkan, yaitu bersenggama di dubur atau (menjima’i) kemaluan wanita ketika haid dan nifas. Silahkan rujuk fatwa kami nomor 1974.

Oleh karenanya, maka tidaklah berdosa bagi seorang suami untuk menghisap leher istrinya atau yang sejenisnya selama tidak menimbulkan mudharat atau menyakiti. Jika terlihat bekas hisapan tersebut kemudian istri ditanya mengenainya, maka dimungkinkan bagi istri agar memberi alasan dengan bahasa kiasan dan tidak menjawab dengan bahasa yang lugas.

Wallaahu a’lam.

This entry was posted in Fatwa and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Get Adobe Flash player