Mengambil ilmu dari para ulama senior

Share

Jadi kalo bisa diusahakan guru itu yg senior, senior itu bisa dikatakan umurnya 40 keatas. Disini ada beberapa riwayat diantaranya, berkata Abdulloh bin Mas’ud semoga Alloh meridhoinya, “manusia selalu berada dalam kebaikan apabila ilmu mereka itu datangnya dari para sahabat nabi dan senior2 mereka, apabila ilmu sudah datang dari yg dibawah mereka yg kecil2 maka saat itulah mereka akan binasa”.  Jadi maksudnya ini pada jaman sahabat nabi, jaman sahabat dulu kalo cari ilmu kepada para sahabat, terutama kepada para sahabat yg senior. Sahabat Abu bakar, sahabat Umar, sahabat Utsman, sahabat Ali, selamat. Jangan ini para sahabat hidup semuanya, ulama2 sahabat senior2 hidup, mencari ilmu malah kepada orang yg gak dikenal, bukan sahabat, kepada tabi’in yg gak dikenal yg ilmunya nyimpang ilmunya ngawur.

Kemudian juga dibawakan riwayat, berkata ibnu Mas’ud ra, “sesungguhnya kamu selalu berada dalam kebaikan selama ilmu itu berada pada orang2 tua, apabila ilmu pada anak2 muda maka orang2 yg tua itu tidak mau belajar kepada anak2 muda”. Jadi diharapkan guru itu yg sudah senior, sesepuh.
Berkata ibnu Qutaibah, maksudnya ibnu Mas’ud td adalah, “manusia selalu berada dalam kebaikan selama ulama2 mereka para orang tua dan ulama2 mereka bukan anak2 muda”. Karena apa? karena orang tua itu sudah lebih bijaksana, lebih tenang, lebih berwibawa, sudah jg banyak berpengalaman. Sementara kalo anak muda cenderung terburu-buru, pengalamannya kurang, kadang jg emosional, gampang terbakar, darahnya masih darah muda, jd kalo belajar kepada orang yg sudah lanjut. tapi lanjut tapi ilmu, ilmunya mantap sehingga bijaksana, menyikapi hal2 bijaksana.

Terus terang kami saja mengalami hal seperti itu, saya sendiri mengalami hal2 yg semacam ini ya. Dulu ketika berusia masih dibawah umur 40, apalagi masih usia 20an 20sekian 30sekian, itu masih keras2nya keras2nya luar biasa, bahkan seakan-akan kebenaran absolut, paling bener saya titik, paling bener ini, semuanya salah, ahli nar semuanya, jaman dulu itu, nah sekarang sudah 40 keatas ndak gitu lagi, sudah lebih mateng. Lha ini ada beda pendapat. ini pendapatnya begini, ini punya dasar ilmu. ini juga pendapatnya begini, punya dasar ilmu. yg mau mengambil pendapat ini monggo, na ini juga monggo. yg penting masing2 punya dasar ilmu, yg penting mengamalkan dengan dasar ilmu, bukan hanya ikut-ikutan saja.

Karena itu penyimpangan2 yg ada sekarang ini adalah anak muda belajarnya kepada anak muda dan anak muda itu belajarnya kepada anak muda, sama2 anak mudanya. Seperti Rasululloh Muhammad saw, ketika mensifati orang2 khowarij, bagaimana sifatnya orang khowarij itu?, khowarij itu usianya muda2, anak muda2, semangat2nya, ini sahabatnya nabi sahabat Ali bin Abi Tholib dikafirkan. Sahabat2 nabi dikafirkan ini anak2 muda rajin ngaji, hafal quran luar biasa semangatnya semangat tinggi. Sampai2 kata Rasululloh saw, sholat kita dengan sholat mereka kalah, puasa kita dengan puasa mereka kalah, baca quran kita dengan mereka kalah, tapi amal mereka ditolak oleh Aloh swt karena mereka lebih mengedepankan hawa nafsu daripada ilmu, karena itu hati2.

Kebanyakan penyimpangan2 yg ada, seperti kejadian yg lalu ada beberapa di kampus anak ilang, karena apa? karena dicuci otak. ada ajaran tertentu. gurunya siapa? gurunya kira2 orang tua atau anak muda? gurunya rata2 anak muda. jadi anak2 usia 20an 30tahun jadi gurunya anak muda muridnya anak muda, sudah jadi sudah sama2 mudanya.

Namun demikian ikhwan wa akhwat fillah rahimakumulloh, bukan berarti tidak boleh belajar kepada anak muda secara mutlak bukan berarti begitu, karena kalo seandainya ada anak muda yg dia punya ilmu yg mumpuni sesuai dengan sunnah dan dia juga punya kebijaksanaan seperti orang tua maka boleh belajar kepada anak muda yg seperti ini. karena itu diterangkan, maknanya disini bukan berarti anak muda itu gak mungkin berilmu, anak muda itu gak mungkin penuntut ilmu, bahkan ada pada jaman dahulu dan jaman kita sekarang ini anak2 muda yg punya ilmu dan layak untuk mengajarkan ilmu. Kalo jaman dulu contohnya sahabat Abdulloh ibnu Abbas, masih sangat muda, jadi para sahabat yg tua2 belajar kepada sahabat Abdulloh ibnu Abbas. Sehingga sahabat Abdulloh ibnu Abbas mengatakan, “mereka para quro -para quro itu para ulama- yg berada di majelisnya sahabat Umar yg menjadi ahli musyawarahnya sahabat Umar mereka itu orang tua dan anak muda”. Jadi sahabat Umar ketika menjadi kholifah punya majelis, majelisnya majelis musyawarah untuk minta pendapat mereka. yg ada di majelis musyawarah itu orang tua ikut hadir, anak muda juga ikut hadir. tapi anak muda yg ilmunya mumpuni, anak muda yg layak untuk diajak bermusyawarah.

Demikian pula didalam Bukhori-Muslim, berkata sahabat Abdulloh ibnu Abbas semoga Alloh meridhoi keduanya, “aku mengajarkan ilmu terutama ilmu Alquran kepada orang2 senior dari kalangan muhajirin diantaranya kepada sahabat Abdurrahman bin Auf”. Jadi sahabat ibnu Abbas masih muda tp mengajar ilmu kepada kaum muhajirin termasuk mengajarkan ilmu kepada sahabat Abdurrahman bin Auf.
Karena itu Ibnul Jauzi rohimahulloh ta’ala menjelaskan, “didalam kisah ini ada pelajaran mengambil ilmu dari ahlinya walaupun usianya muda walaupun kedudukannya lebih rendah”. Walaupun muda kedudukannya lebih rendah tapi dia punya ilmu layak untuk mengajar ilmu, maka kita mengambil ilmu dari dia tidak mengapa.

Jadi intinya disini adalah mengambil ilmu dari ulama2 yg senior itu diutamakan, namun bukan berarti tidak boleh mengambil kepada anak muda kalo dia layak untuk menjadi pengajar ilmu. Sekali lagi karena anak muda itu biasanya modalnya itu adalah modal semangat yg sangat tinggi tidak mikir panjang. Anak muda itu maunya hari ini dakwah hari ini berhasil dakwahnya. kan gitu kan? dakwah pagi, sore selesai, anak muda maunya gitu. Dianggap dakwah seperti membalik tangan. padahal dakwah itu butuh proses yg panjang. Contohnya nabi Muhammad saw, ketika hijrah ke Thoif lalu di Thoif dilempari batu sampe bercucuran darah mulia dari tubuh mulia Rasululloh Muhammad saw, sehingga malaikat penjaga gunung menawarkan apakah perlu gunung ini diledakkan kepada mereka supaya hancur semuanya. Apa kata nabi Muhammad? “jangan, jangan dihancurkan, kalo sekarang bapaknya kafir aku berharap nanti anak2 cucunya mau menjadi islam. Aku berharap nanti keluar dari mereka ini anak keturunan yg beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun”. Karena apa? Rosululloh sudah matang, Rasululloh diangkat menjadi nabi umur berapa?, 40 sudah matang. Waktu hijrah ke Thoif tahun kesepuluh kenabian, usia nabi sudah 50, tambah matang lagi. Coba kalo anak muda, kalo misalnya anak usia 20 tahun, 30 tahun dakwah ke Thoif dilempari batu oleh orang thoif, lalu malaikat penjaga gunung mengatakan “wahai fulan bagaimana kalo gunungnya diledakkan supaya orang Thoif mati semuanya” bagaimana kira2?, habiskan aja sudah. karena apa? karena masih muda, pikirannya pendek. Kalo sudah tua pikirannya panjang.

—————————————-

Kajian Adab Tholabul Ilmi BAB 6

Ust.Abdullah Sholeh Hadrami

This entry was posted in Adab Penuntut Ilmu. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Get Adobe Flash player