Mengambil Ilmu Secara Langsung

Share

Mengambil ilmu itu menghadiri majelisnya para ulama, mendengar langsung dari mulutnya para ulama. Bahwasanya orang yg mengambil ilmu dari buku saja, belajar ilmu dari media-media saja tanpa guru itu adalah tercela dan ilmunya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Disini dibawakan ucapan-ucapan dari para Salafush Sholeh rahmatullahi ‘alaihi ‘ajmain tentang pentingnya belajar kpd para ulama di majelis2nya para ulama, mendengar langsung dari mulutnya para ulama.

Ibnu ‘Aun rahimahulloh ta’ala mengatakan “janganlah kamu mengambil ilmu kecuali dari orang yg disaksikan bahwa dia itu pernah menuntut ilmu”. Jadi maksudnya disini jangan belajar kepada seorang guru yg guru itu tidak pernah menuntut ilmu kpd gurunya. Maksudnya jangan belajar kpd orang yg orang itu mendapatkan ilmu secara otodidak (belajar sendiri), itu tidak dibenarkan.

Berkata Sulaiman bin Musa semoga Alloh merahmatinya, “tidak boleh mengambil ilmu dari shohafi”. kalo sekarang shohafi ini diartikan sebagai wartawan, tapi maksudnya disini adalah jgn mengambil ilmu dari orang yg belajar dari buku, jgn mengambil ilmu dari orang yg tidak pernah berguru.

Berkata Alkhotib al Baghdadi rahimahulloh ta’ala, “hendaklah yg dijadikan guru itu adalah orang yg mengambil imunya langsung dari mulutnya para ulama bukan dari buku, bukan dari lembaran-lembaran”. Jadi mencari ilmu itu dari guru yg gurunya itu pernah belajar dari gurunya lagi.

Hal ini diperjelas oleh syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zeid rahimahulloh ta’ala dengan ucapan yg sangat indah, kata beliau “pada asalnya (jaman nabi jaman sahabat) mencari ilmu dengan cara talqin (talqin itu artinya guru, menyampaikan, guru menyampaikan dan murid menghadiri) sehingga ilmunya itu ada sanadnya”. Sanadnya ini bersambung, yaitu gurunya ini belajar dari gurunya, gurunya belajar dari gurunya, bersambung terus. Jadi langsung mengambil dari mulutnya para ulama. Jaman nabi dulu ndak ada orang belajar dari buku. Orang belajar langsung otodidak ndak ada, jaman nabi jaman sahabat ndak ada. Hadir, menghadiri majelisnya nabi, menghadiri majelisnya para sahabat nabi Muhammad saw, menghadiri para majelisnya tabi’in. Bukan mengambil ilmu dari lembaran-lembaran dan juga bukan dari kitab.
Kalo sekarang tekhnologi lebih canggih ya, ditambahin lagi bukan mengambil ilmu dari facebook, bukan mengambil ilmu dari internet, bukan mengambil imu dari twitter, bukan mengambil ilmu dari BBM, itu hanya sarana-sarana saja. Tapi bukan itu mengambil ilmu. Mengambil ilmu itu datang ke majelisnya para ulama, ngaji kepada para ulama.
Yang pertama td yaitu mencari ilmu pada guru itu berarti dia mempunyai nasab, nasabnya itu adalah gurunya, jadi bersambung. Dari seorang guru gurunya mengambil ilmu dari gurunya, gurunya mengambil ilmu dari gurunya, sampe bersambung kepada Rasululloh Muhammad saw. Jadi ada nasabnya.
Kalo kita punya garis nasab itu kita punya bapak, bapak kita punya bapak, bapak kita bapak terus bersambung nasabnya.
demikian pula ilmu itu ada nasabnya, nasabnya ilmu. Adapun orang yg mengambil dari kitab langsung tanpa guru, maka itu adalah benda mati. ndak punya nasab dia. ilmunya itu ilegal. ilmunya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dikatakan barangsiapa yg masuk dalam ilmu sendirian maka keluar juga sendirian. Maksudnya barangsiapa belajar ilmu tanpa guru maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.

Sehingga diibaratkan guru itu tangga, ada lantai, lantai satu lantai dua. nah kalo kita ingin sampe ke lantai dua itu ada tangganya, ada liftnya. nah tangga itu adalah guru. Kalo kita gak punya tangga tidak bisa naik kelantai berikutnya.

Jadi penting ini ikhwan wa akhwat fillah rahimakumulloh, bahwasanya kita belajar dari guru yg mana guru itu pernah belajar kepada guru. Dan yg namanya belajar kepada guru itu bukan sehari dua hari, ngaji. Bahkan para ulama mengatakan minimal ngaji itu dua tahun, minimal. Bukan ngaji seperti ini, ndak cukup kalo ini, yang dimaksud ngaji dua tahun itu intensif, ya mirip di pondok pesantren, mulazamah dua tahun, minimal ngaji. Semakin sempurna lagi empat tahun. Nah layak baru dia untuk ngajar.

Karena itu orang yg tdk pernah berguru dan dia berani ngajar banyak kejanggalan-kejanggalan, banyak ketimpangan-ketimpangan yg menjadikan sekarang ini kacau karena apa? kalo orang bodoh itu diam maka sedikit perbedaan, yg menjadikan banyak perbedaan karena orang tidak berilmu berbicara. Jadi ilmu ada nasabnya ya. nasabnya bersambung kpd nabi.

Nah sementara orang yg tidak punya nasab bersambung pada nabi maka dia punya nasab bersambung kepada selain nabi. Kepada siapa nasabnya?. Kalo kita bicara misalnya orang dari kaum liberal, sekuler, kaum pluralisme, kan belajarnya kepada orang barat, jadi kepada siapa? fulan mendapat ilmu dari orang barat, samuel huntington dari siapa terus bersambung kepada nasabnya bersambung kepada….. syaithonirrojim. Nasabnya bersambung kpd syaithon. naudzubillah, menyesatkan, kacau.

Belajar dari guru itu keutamaannya banyak, yg mana gurunya itu punya guru yg mana bersambung sanadnya sampai kpd Rasululloh Muhammad saw diantaranya adalah

  • mempersingkat waktu. Karena guru sebelum mengajarkan itu sudah persiapan. Sebelumnya guru sudah mendapatkan ilmu dari guru sebelumnya sehingga murid itu instan, tinggal mendapatkan instan. Sementara kalo belajar sendiri dari kitab butuh waktu yg lama, mungkin sulit ndak bisa memahami.
  • Kemudian juga belajar kpd guru yg gurunya itu punya sanad, sanad ilmu maka ilmunya lebih mantap. Ada satu kejadian pada masa nabi Muhammad saw, ketika Rasululloh saw meninggal dunia. Para sahabat kaget atau tidak? para sahabat kaget, bahkan sahabat Umar ibnu khatab ra tidak percaya kalo nabi mati, ndak percaya. Bahkan sahabat Umar mengkhunuskan pedang yg mengatakan nabi mati akan kupenggal lehernya saya ndak terima. sampai kapan? sampai akhirnya datang sahabat Abu Bakar Asshidiq ra, lalu sahabat Abu Bakar membacakan firman Alloh swt surat Ali Imran 144, sahabat Abu Bakar menjelaskan bahwa, “nabi Muhammad itu adalah rosul, sama dengan rosul rosul sebelumnya, bisa mati. apakah kalo mati kamu akan murka?”. Begitu mendengar ucapan sahabat Abu Bakar ini para sahabat yg lain termasuk sahabat Umar baru menyadari, iya ya ternyata ada ayat seperti ini ya. Seakan akan mereka selama ini belum pernah membaca ayat ini tapi begitu mendengar langsung dari mulutnya Abu Bakar, dibacakan sahabat Abu Bakar mereka baru sadar. Mantap ilmunya, percaya ternyata memang Rasululloh saw meninggal dunia. ini pentingnya guru menjelaskan sehingga ilmunya lebih mantap.
  • Kemudian juga diantara faedah belajar kpd guru yg gurunya itu pernah berguru itu adalah kita bisa diskusi, diskusi dengan dasar ilmu bukan dengan akal-akalan saja, bukan diskusi mengambil dari kitab saja.
  • Kemudian juga diantara faedahnya belajar langsung dari guru, menghadiri majelis ilmunya guru yg gurunya itu pernah belajar kepada gurunya, kita bisa belajar adab. yg lalu sudah kita bahas ya, yg mana dahulu para ulama ketika belajar kpd imam Malik mereka itu lebih banyak mengambil adabnya imam Malik daripada ilmunya imam Malik. Kalo ilmu gampang, kitab dibeli gampang ditoko buku kita mau beli berapa bisa ada uang ada kitab, tapi adabnya guru ketika menjelaskan bagaimana sikapnya ketika ada kejadian seperti ini bagaimana menyikapinya, ketika ada orang-orang badui datang bagaimana guru itu menyikapinya, subhanalloh itu ndak ada di kitab itu hanya ada di majelisnya para ulama langsung. Seperti para sahabat dulu itu kan paling seneng kalo datang kepada nabi orang badui. orang badui itu polos, ngomongnya itu ceplas ceplos, dan para sahabat banyak mengambil pelajaran. Mengambil pelajaran dari sikapnya orang badui itu dan mengambil pelajaran dari sikapnya nabi. Ketika menyikapi orang badui seperti itu dikitab ndak ada, itu hanya ada kalo kita hadir langsung.

Demikian pula kami sering mendapatkan dari syaikhuna fadhilastus syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahhulloh ta’ala pelajaran2 seperti itu. Syaikh Utsaimin itu kalo ba’da ashar beliau majelisnya itu ba’da ashar ada syarah bulughul maram singkat beberapa hadis dibacakan diterangkan langsung setelah khatam bulughul maram tempo hari diganti dengan kitab mishkat ul masabih. Setelah pengajian sore itu orang-orang kumpul disekitar beliau yg ada perlunya. Ada orang punya perlu, ada yg minta uang, minta fatwa, macam-macam. Kemudian majelisnya beliau lagi ba’da maghrib sampai isya, kemudian ba’da adzan isya sampai qomat kurang lebih setengah jam itu majelis hariannya.
nah ketika ba’da ashar ketika orang-orang kumpul itu banyak pelajaran kita ambil, diantaranya ada orang badui, paling seneng kita kalo ada orang badui yg datang. Orang badui itu pakainnya alakadarnya, kotor kadang ya, hidupnya di pedalaman orangnya cuek, dia datang kalo ngomong suaranya keras semesjid semuanya denger kalo dia ngomong. Sementara syaikh Utsaimin menghadapi dengan sabar. Bahkan orang badui itu kalo dia tanya sesuatu dia ingin jawabannya sesuai dengan yg diinginkannya, kalo jawabannya tidak sesuai dengan yg diinginkannya ngotot terus dia sampai pokoknya syaikh harus ngikuti keinginan dia. Kita banyak mengambil pelajaran. Jadi dilayanin badui ini, selesai, dijawab oleh beliau, sudah selesai. Ngomel kalo ndak dilayani, beliau ngelayanin yg lainnya, sambil badui ini ngomel teruus sabar ngelayanin yg lainnya, sampe selesai semuanya badui ini belum puas juga. sampe syaikh pulang  kerumahnya pun diikuti, sampe didepan rumahnya diikuti. Nah yg seperti ini di buku ada atau tidak? ndak ada di buku, yg seperti ini hanya ada kalo kita datang ke majelisnya para ulama.

Jadi inti daripada adab yg nomor ke 4 ini belajar itu tidak cukup dari buku saja, belajar tidak cukup dari internet saja, dari facebook ndak cukup, dari bbm ndak cukup. Belajar itu harus menghadiri majelisnya para ulama, mengambil ilmu langsung dari mulutnya para ulama, itu ilmu yg bisa dipertanggungjawabkan, ilmunya ilmu yg legal.
Ssekarang contohnya saja ilmu umum, ilmu kedokteran. Boleh atau tidak? seseorang yg belajar ilmu kedokteran otodidak, dia beli buku-buku ilmu kedokteran, setelah dia pelajari buku-buku ilmu kedokteran langsung buka praktek. Boleh atau tidak? ditangkap polisi nanti, dianggap ini praktek kedokteran illegal ini, Karena ilmunya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Nah sekarang kalo dokter mengobati badan saja ilmunya harus legal, resmi, belajar kpd guru bagaimana pula dengan dokternya hati, para ulama. Itu kalo dokter badan saja ilmunya harus belajar dari guru bagaimana dengan dokternya hati yg lebih penting lagi. Jadi harus belajar kepada guru dan sekali lagi belajar kpd guru itu para ulama mengatakan kalo bisa itu minimal 2 tahun. Dua tahun itu mulazamah, intensif dua tahun. Jangan nanti ketemu guru sekali dua kali langsung minta ijazah, minta sanad, padahal belajar cuman sehari dua hari saja, bangga dengan sanadnya.

 —————————

kajian Adab Tholabul Ilmi BAB 4

Ust.Abdullah Sholeh Hadrami

This entry was posted in Adab Penuntut Ilmu. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

2 Comments

  1. Posted December 5, 2013 at 7:27 am | Permalink

    kalau langsugn memang terasa pas deh di hati, walau saya sendiri jarang dan belum memiliki kesempatan untuk sering-sering

  2. amoy
    Posted April 22, 2014 at 1:31 am | Permalink

    jaman nabi belum ada pelpustakaan, belum ada intelnet..
    jadi ya halus langsung ketemu gulunya walaupun halus jalan kaki belhali-hali

    sekalang kondisinya dah beda, jadi jangan tellalu taklid dong bang,
    lagian sekalang juga banyak gulu2 yg ndak bener (cabul, musrik, materialis, dll)

    jadi jangan begitu dong, saya yakin bang iyoong punya gulu tapi ya jangan begitu dong bang

Leave a Reply

Get Adobe Flash player