Menuntut ilmu kepada ulama yang mengikuti sunnah

Share

Bab ini amat sangat penting, karena guru ini banyak tapi tidak semua guru mengikuti sunnah nabi Muhammad saw. Tidak semua guru mengikuti ajarannya nabi Muhammad saw.

Disini ada diriwayatkan, berkata Abdurrahman bin Yazid, “kami bertanya kpd sahabat Hudzaifah tentang orang yg akhlaknya yg perangainya yg petunjuknya mirip dengan nabi Muhammad saw untuk kami mengambil ilmu dari orang itu”. Jadi mereka datang kpd sahabat Hudzaifah, wahai sahabat Hudzaifah terangkan kpd kami siapa kira-kira orang yg akhlaknya mirip nabi, perangainya mirip nabi, petunjuknya mirip nabi supaya kami bisa belajar dari orang itu siapa kira2 orangnya. Lalu kata sahabat Hudzaifah, “tiadalah seorangpun yg lebih dekat, yg lebih mendekati akhlaknya, kepribadiannya, perangainya, petunjuknya dengan nabi Muhammad saw daripada Ibnu Ummi ‘Abd”. Ibnu Ummi ‘abd ini panggilan daripada diantara panggilan sahabat abdulloh bin Mas’ud. Jadi mereka itu kalo mau mencari ilmu dilihat dulu, apakah guru ini mirip nabi atau tidak, akhlaknya apakah mirip nabi, adabnya apakah mirip nabi, muamalahnya apakah mirip nabi, ilmunya apakah mirip nabi, kalo mirip nabi barulah mereka belajar.

Demikian pula Ibrahim An Nakha’i semoga Alloh merahmatinya, mereka dahulu kalo mereka mendatangi seorang guru untuk mengambil ilmu dari guru itu mereka lihat dulu, perangainya, akhlaknya, sikapnya, sholatnya, apakah seperti nabi atau tidak, kalo seperti nabi baru diambil ilmu daripadanya. jadi kalo orang-orang jaman dahulu itu mencari guru tidak asal asalan, dilihat dulu orang ini mirip nabi atau tidak akhlaknya perangainya muamalahnya, ilmunya apakah ilmunya sesuai dengan ilmunya nabi atau menyimpang dari ajarannya nabi Muhammad saw.
Kalo sesuai dengan nabi baru mereka mengambil ilmu. Karena ilmu ini adalah agama, perhatikan dari siapa kamu mengambil agamamu. jadi kita dilarang ngambil ilmu dari orang2 yg menyimpang yg menyalahi sunnah nabi Muhammad saw. Orang2 yg menyimpang dari ajarannya nabi yg memutar balikkan ayat2 Al-Quran, Alloh swt berfirman didalam surat Al An’am ayat nomor 68, “apabila kamu melihat orang2 yg berbicara tentang ayat2 Kami, ayat2 alquran, tapi diselewengkan ayat2 itu, diolok2 ayat2 itu maka menjauhlah dari mereka, jangan berada di majelis mereka, sehingga mereka berbicara dengan pembicaraan yg lain”. Jadi kalo orang berbicara tentang Ilmu, tapi ilmunya itu meyimpang.
Alquran ditafsirkan seenaknya. karena menafsirkan alquran ini ada aturannya ndak boleh menafsirkan seenaknya.

Tahapan2 menafsirkan alquran ini yg pertama-tama adalah menafsirkan alquran dengan alquran, karena alquran saling melengkapi kalo tidak ada di alquran maka menafsirkan alquran dengan sunnahnya nabi dengan haditsnya nabi, kalo tidak ada yg ketiga menafsirkan alquran dengan ucapannya para sahabat nabi Muhammad saw. Banyak para sahabat pakar tafsir. kalo tidak ada maka menafsirkan alquran dengan ucapannya para tabi’in, Banyak para tabi’in yg merupakan pakar tafsir. Kalo tidak ada juga yg terakhir yg kelima maka menafsirkan alquran sesuai dengan kaidah2 bahasa arab dan kaidah syariat. jadi ndak boleh menafsirkan dengan akal saja.

Kemudian disini disebutkan pula sebuah riwayat yaitu dari bunda ‘Aisyah ra, Rasululloh membaca ayat ini yaitu surat Ali Imran ayat 7, jadi maksudnya disini Alloh menurunkan Al-Quran ayat2 AlQuran itu ada dua macam. Ada ayat yg namanya ayat muhkamat yg hukumnya itu jelas gamblang, adalagi ayat2 yg mutashabihat yg seakan-akan itu masih samar2, yg seharusnya kita lakukan yg samar2 ini dibawa menuju yg jelas, tapi ayat ini menjelaskan kalo orang hatinya cenderung menyeleweng, cenderung untuk menyimpang, justru yg samar2 itulah yg dipegang oleh dia. Tujuannya adalah untuk menyeleweng. Rosululloh saw ketika membaca ayat ini beliau mengatakan, “apabila kamu melihat orang yg mengikuti ayat2 yg mutashabih ayat2 yg samar2 itu merekalah orang yg disebut Alloh diayat ini, inginnya adalah nyeleweng, hatinya nyeleweng. Contohnya antum ada pernah denger ndak ada ayat muhkamat ada ayat mutashabihat, Contohnya gini kan ada orang islam yg menyebarkan ajaran pluralisme. Pluralisme itu semua agama sama, bahkan ada seorang yg menulis buku berjudul “pluralisme menurut alquran”. jadi seakan2 Al-Quran mengajarkan ajaran pluralisme, semua agama sama. yg dibawa oleh dia itu ayat yg samar2 yg seakan2 yahudi itu benar seakan-akan nasrani itu benar, dibawa ayat itu. Sementara dia melupakan ayat yg jelas2 menyatakan yahudi itu kafir nasrani itu kafir, ditinggalkan. Mestinya ayat yg samar2 ini dibawa kepada ayat yg jelas, jangan malah yg samar2 dipegangi, yg itu yg bahaya. Jadi ini maksudnya adalah orang yg menyimpang dari sunnah, jangan belajar kepada orang yg seperti ini.

Contohnya lagi ayat2 tentang jilbab, jilbab itu wajib atau tidak? jilbab itu wajib, ndak ada ulama mulai dari jaman nabi sampe jaman sekarang semuanya mengatakan jilbab wajib. Tapi ada seorang yg disebut sebagai pakar tafsir, seorang profesor doktor mengatakan jilbab itu ndak wajib, dia berdalih dengan ayat. yg mana ayat itu ditafsirkan sendiri oleh dia, sementara ayat yg jelas2 mengatakan jilbab itu wajib, ditinggalkan. nah inilah orang yg disebut oleh nabi sebagai orang yang hatinya cenderung untuk nyeleweng, hatinya cenderung untuk nyimpang. ayat yg jelas, hadits yg jelas, bahwa wanita harus berjilbab, ditinggalkan. dia berpegang kpd ayat yg seakan akan mengesankan wanita gak wajib berjilbab. dalilnya itu lemah sekali. tapi karena dia berbicara kepada orang umum, banyak yg terpengaruh juga. Apalagi orang yg memang tidak suka dengan jilbab maka dia akan suka dengan ulama yg mengatakan jilbab itu ndak wajib. kan masyarakat gitu kan?, orang yg bermuamalah riba, suka riba, yg dia cari adalah ulama yg mengatakan riba itu boleh, kan gitu kan?. nah inilah orang yg menyimpang dari sunnah, hati2 dari orang yg seperti ini.

Contohnya sekarang ini ada buku judulnya adalah “ternyata akhirat tidak kekal”, aneh kan?. dia bawakan ayat2 Al-Quran. nah ini lah orang yg menyimpang dari sunnah, ayat2 yg jelas, hadits yg jelas semuanya yg menyatakan Al-Quran akhirat itu kekal, semuanya jelas gamblang ditinggalkan. dia berpegang dengan ayat yg malah seakan akan samar samar seperti itu. Karena itulah disini ada bab yg menjelaskan tentang pentingnya belajar kpd orang yg mengikuti sunnah. jadi kalo mau cari guru itu kita liat dulu apakah guru ini sesuai sunnah atau tidak ilmunya sesuai sunnah atau tidak, akhlaknya sesuai sunnah atau tidak, muamalahnya sesuai sunnah atau tidak. Sesuai sunnah ikuti kalo tidak? ya jgn diikuti.

Karena nanti akhir zaman banyak orang berpendapat dengan pendapat aneh-aneh kita gak pernah denger, karena itu Rasululloh saw bersabda didalam hadits yg diriwayatkan oleh imam Muslim di mukodimahnya melalu jalan sahabat Abu Hurairah ra, “nanti akan ada pada akhir zaman orang2 yg berbicara kpd mu dengan pembicaraan yg kamu tdk pernah dengar itu. bahkan bapakmu tidak pernah dengar, nenek moyangmu tdk pernah dengar, hati2 lah kamu dengan orang yg seperti itu”. Contohnya orang mengeluarkan kitab, “ternyata akhirat tidak kekal”. ini kita pernah denger gak sebelumnya? bapak kita gak pernah denger itu, nenek kita gak pernah denger, nenek moyang kita ndak pernah denger ini sekarang aneh aneh keluar semuanya. “ternyata nabi Adam dilahirkan”, pernah denger gak kita? seumur umur 7 turunan ndak pernah denger nah sekarang muncul. inilah yg dikatakan oleh nabi Muhammad saw. Jadi kalo mau belajar, belajar kepada orang yg mengikuti sunnah. supaya kita selamat. Karena sunnah ini ibaratnya adalah perahunya nabi nuh, orang yg berada didalam perahunya nabi nuh, selamat. yg diluar perahunya nabi nuh tenggelam . kita berada didalam sunnah, selamat. Kita diluar sunnah, tenggelam kita tidak selamat.

Kemudian juga Al Imam Malik rahimahulloh ta’ala mengatakan, “tidak boleh mengambil ilmu dari empat jenis manusia, dan boleh diambil dari selain itu”. jadi jangan belajar kepada 4 orang jenis manusia ini. siapakah 4 jenis manusia ini,

  • “Tidak boleh mengambil ilmu dari orang yg bodoh”. Bagaimana mungkin kita belajar kepada orang yg bodoh gak mungkin, belajar kpd orang yg ndak punya ilmu, jadi jangan belajar kpd orang yg ndak punya ilmu belajar harus kpd orang yg berilmu. orang yg tidak punya sesuatu itu tidak bisa memberikan sesuatu. kita ndak punya uang kita bisa gak beri uang? ya ndak bisa, demikian pula dengan kita ndak punya ilmu ya ndak bisa memberikan ilmu.
  • “Tidak boleh pula mengambil ilmu dari pengekor hawa nafsu yg mengajak manusia untuk mengikuti hawa nafsunya”. Maksudnya ini adalah orang yg menyimpang dari sunnah. jangan belajar kpd orang yg menyimpang dari sunnah yg mengajak kita menyimpang dari sunnah. sekarang ini banyak kelompok yg menyimpang dari sunnah. Contohnya kalo jaman dulu itu ada namanya kelompok khowarij, khowarij itu yg ekstrim, radikal, yg dengan mudah menjatuhkan vonis kepada orang islam, menjatuhkan vonis kafir kepada orang islam. yg gampang mengkafir-kafirkan. Adalagi kelompok tandingannya murji’ah. murji’ah itu yg penting pokoknya orang itu iman didalam hatinya berbuat apapun ndak masalah, jadi kalo sekarang ini mirip-mirip orang-orang dari ajaran sekuler, pluralisme, liberal, itu murji’ah semuanya itu. murji’ah campur macem2 sudah. kemudian adalagi yaitu rowafidh, rowafidh itu yg rofidhoh yg mencaci maki sahabat nabi, istri nabi, jangan belajar kepada orang seperti itu atau mengagung2kan mengkultuskan ahlul bait dikultuskan seakan akan ini adalah orang2 suci dan yg lain2nya masih banyak lagi. jangan belajar menyimpang kepada sunnah yg mengajak manusia menyimpang dari sunnah.
  • “Jangan belajar kepada orang yg pendusta suka berbohong kepada manusia walaupun dia tidak berbohong terhadap haditsnya nabi”. kalo cerita hadits dia gak bohong tapi kalo kepada manusia dia ngomong sering bohong. jangan belajar kpd pembohong. Bagaimana mungkin kita belajar kpd pembohong, bagaimana mungkin kita mengangkat pembohong sebagai guru kita.
  • “Jangan pula belajar dari seorang syaikh yg punya keutamaan yg punya kebaikan yg ahli ibadah tapi dia tidak memahami apa yg dia ucapkan”. Seorang syaikh yg utama yg baik ahli ibadah tapi pelupa, yg dia ucapkan, dia gak paham gak sadar. Bagaimana mungkin kita belajar kpd seorang guru yg pelupa.

Jadi intinya disini ikhwan wa akhwat fillah rahimakumulloh kalo belajar itu kpd orang yg mengikuti sunnah, dan mengikuti sunnah itu lengkap ya, ilmunya sesuai dengan sunnahnya nabi. kemudian juga akhlaknya sesuai dengan akhlaknya nabi, muamalahnya sesuai dengan muamalahnya nabi. Jadi bukan hanya yg penting akidahnya baik akhlaknya ndak baik ndak apa2, woo tidak. akidah harus baik akhlak juga harus baik, bahkan para ulama mengatakan yg disebut ahlus sunnah itu orang yg tau apa yg masuk kedalam perutnya apakah yg masuk kedalam perutnya itu halal atau haram dia tau, itulah ahlus sunnah, kalo haram gak dimasukkan kalo halal dimasukkan itulah namanya ahlussunnah, orang yg waro orang yg zuhud.

Jadi itu bab atau adab yg kelima menuntut ilmu kepada orang yg mengikuti sunnah nabi Muhammad saw.

 

—————————————-

Kajian Adab Tholabul Ilmi BAB 5

Ust.Abdullah Sholeh Hadrami

This entry was posted in Adab Penuntut Ilmu. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

One Comment

  1. Posted December 5, 2013 at 7:25 am | Permalink

    banyak kok yang berpendpat jilbab gak wajib bahkan seorang publik figur yang sangat dikenal kita dan seorang ahli tafsir tapi mengatakan jilbab ndak wajib tapi mengikuti jaman

Leave a Reply

Get Adobe Flash player