Teori Akal dalam Tazkiyatun Nafs

Share
  • QS 24 Ayat 30 dan 31
  • QS 75 Ayat 14

Akal merupakan pembeda antara manusia dengan hewan. Ada orang yang keliru memahami akal, akal dipahami dengan otak. Akal itu bukan otak. Karena hewan pun punya otak, tapi hewan tidak punya akal. Udang itu punya otak tapi orang tak mau disebut dengan otak udang. Kambing punya otak, Sapi punya otak tapi sapi dan kambing tak punya akal.

Kalau ada suatu benda yang diikat, menempel kemudian diikat, ikatan ini dalam bahasa Arab memiliki 3 atau 4 kosakata;

  1. Disebut dengan qoidun (قيد). Ada spidol diikat dengan karet, maka ikatannya disebut qoid.
  2. Kalau ikatannya tidak nampak, melekat kuat tapi tidak kelihatan disebut dengan ‘alaq (علق). Karena itu ketika janin berbentuk zigot kemudian mengikatkan diri dalam rahim, menempel dengan kuat, itu diubah kalimatnya oleh quran dengan ‘alaq. kenapa disebut dengan ‘alaq? karena dia sudah mulai menempel di dinding rahim, kuat tapi tidak kelihatan.
  3. Kalau ada ikatan yang sangat kuat baik nampak atau tidak, terlihat atau tidak, mengikat sesuatu dengan kuat, bahasa arabnya disebut dengan ‘aqla/al aqla(العقل), sifatnya disebut dengan akal.

Contoh mudahnya,

sumber takwa dan fujur (Nafs) ada di qolbu. Dalam kerja takwa atau nafsu tersebut menembuskan ke dalam anggota tubuh (disebut dengan jasad) itu tidak langsung ke tangan, mata, tapi lewat perantara terlebih dahulu disebut dengan akal.

Takwa + Nafsu → Akal → Jasad

Ada penelitian ilmiah seorang dokter. Akal memiliki fungsi ganda, respon yang dikeluarkan oleh takwa/nafsu ternyata itupun tergantung dari apa yang dikerjakan anggota tubuh (jasad) ini. Kalau mata lihat yang baik-baik maka informasi yang ditangkap oleh mata sekejap ditangkap oleh akal diteruskan ke qolbu, yang baik ketemu dengan baik, yang baik dari akal ditembuskan ke takwa. Karena itu jiwa takwa yang cepat akan membisikkan respon. Misalnya, Anda lihat seseorang mau datang ke mesjid. Begitu mata melihat yang baik-baik orang ke mesjid dia langsung akan memberi sinyal, sifat takwa muncul “cepat orang sudah bersiap-siap ke mesjid, masa kamu masih sebegini juga”.

Yang jadi masalah Kalau yang dilihat selalu tidak baik, melihat maksiat, gambar yang tidak baik, pemandangan yang tidak elok, maka informasi yang diikat oleh akal itupun buruk. Hal ini yang masuk ke sifat Fujur, ini yang memberikan titik kepada takwa menjadi penyakit, maka yang direspon sifat-sifat buruknya. Kalau sudah seperti ini yang bahaya maka mata akan sulit melihat sesuatu yang baik-baik. Contoh, Melihat orang taklim sudah tidak suka, melihat orang ke mesjid sudah tidak ada getaran, tapi kalau melihat yang naksiat, acara tidak tepat, lihat sesuatu yang tidak menyenangkan dalam konsep agama, itu cepatnya luar biasa cepat sekali. Karena itu nanti dalam ilmu tazkiyatun nafs pada bahasan selanjutnya, sebelum mengeluarkan penyakit hati harus dicegah terlebih dahulu.

Melihat yang buruk ditangkap oleh akal masuk ke Fujur membawa sifat jelek, membawa penyakit-penyakit dalam bahasa arab disebut marodhun (مرض). Kalau orang sering melihat yang buruk-buruk pada hakikatnya dia sedang membawa penyakit dimasukkan kedalam qolbunya, ke sifat fujurnya. Qolbu jamaknya quluubun, Al Baqaroh ayat 10. Ada orang yang organnya sering beraktivitas jelek yang haram-haram yang buruk-buruk, maka yang masuk ke dalam hatinya selalu penyakit-penyakit, takwanya tidak merespon.

Karena itu nanti ketemu ayat-ayat Quran pertama kali mengajarkan Tazkiyatun Nafs itu bukan mengobati penyakit tapi mencegah yang kotor supaya tidak masuk dulu ke dalam hati. Kebanyakan materi yang dibawa di beberapa tempat itu bagaimana mengeluarkan sifat buruk dalam hati, tapi kata Quran petunjuknya sebelum dikeluarkan sebetulnya cegah dulu supaya yang jelek tidak masuk dalam diri.  Jadi kalau Anda sudah bisa mencegah kenapa harus mengeluarkannya? .

QS 24 ayat 30 (untuk laki-laki) dan 31 (untuk wanita) → menjaga pandangan, kalau sudah dapat menjaga, bashor dapat menjadi bashiroh.

Orang-orang yang baik pandangannya maka bashirohnya akan sangat tajam dalam kebaikan, sebaliknya orang-orang yang melihat maksiat, hal yang dilanggar, tidak diperkenankan maka kata Nabi akan muncul titik-titik dalam nilai kebaikan, bashirohnya tertutup, tidak ada kebaikan. Al Baqaroh ayat 7.

KESIMPULAN

  1. Setiap manusia memiliki 2 sumber kehidupan yang penting yaitu Ruh dan Jasad.
  2. Ruh berasal dari Alloh yang Maha Suci, sehingga unsur-unsur yang dibawa oleh ruh selalu besifat suci, mengumpulkan banyak kebaikan (takwa).
  3. Adapun jasad memiliki peran ikhtiar manusia dalam pembentukannya sehingga seringkali bercampur unsur kebaikan dan keburukan didalamnya (Fujur).
  4. Ruh yang membawa sifat Takwa bila telah menyatu dengan jasad yang memiliki sifat fujur akan berubah keadaannya menjadi Nafs.
  5. Nafs akan sangat berperan dalam menentukan sifat dan sikap seseorang, baik ataupun buruk. Seseorang akan bersikap baik bila takwanya yang berada dalam Nafs dominan, namun bisa berprilaku buruk jika fujurnya dominan.
  6. Cara untuk menekan sifat fujur agar sifat-sifat takwa bisa muncul ke permukaan dan menghimpun banyak kebaikan disebut dengan Tazkiyah. Dari sinilah lahir istilah Tazkiyatun Nafs.
  7. Respon baik/buruk yang diwujudkan dalam bentuk perilaku akan sangat bergantung pada berbagai informasi yang diterima oleh Nafs dari berbagai organ tubuh terkait (mata, telinga, mulut, lidah, kulit).
This entry was posted in Kajian and tagged , , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Get Adobe Flash player