Teori Tentang Rezeki penjelasannya dalam Al Quran

Share

Rezeki  itu adanya dimana, di langit ataukah di bumi ?. Lihat QS 51 ayat 22

Dan di langit rezeki Anda sudah disiapkan, ditetapkan dan tidak akan pernah tertukar. Kalau Alloh sudah memberikan statement tidak akan pernah tertukar, maka tidak ada kerjaan orang yang mengambil rezeki orang lain. Jangan pernah mengharapkan rezeki orang lain apalagi mengambilnya, itu tidak ada kerjaan namanya, karena rezeki kita sudah ditetapkan.

Ingat hukum pengambilan. Kalau ada hak orang lain yang diambil, maka seketika terasa menyenangkan tapi yang diambil ini suatu saat akan kembali.

Dan dijanjikan kata Alloh rezeki  kamu sudah dituliskan di langit.

Kita hidup di bumi, rezeki nya di langit. Bagaimana cara mengambilnya? maka Alloh turunkan sifat keadilannya, diturunkan rezekinya ke bumi disediakan untuk mudah kita mengambilnya. Dijawab QS 2 ayat 29. 

Tidak semua rezeki  yang turun itu menimpa kita, bahkan harus memerlukan usaha, harus bergerak. Karena itu turun surah Al baqaroh ayat 168. 

Bahasa Quran ketika meminta manusia mencari rezeki  itu berlaku umum/universal, tidak mengikat akidah. Hukumnya mesti dicari dengan halal/legal. Tidak boleh mencuri, merampok, dan sebagainya. Karena hukumnya bersifat umum mengikat bagi manusia, maka manusia agama apapun, kepercayaan apapun yang melanggar kedua ketentuan ini, pasti mendapatkan konsekuensi dari kehidupan dunianya dan akan diproses juga.

Misal, ada seorang muslim mencuri, mencari rezeki dengan menempuh cara yang tidak halal, tentu akan ditempuh juga melalui hukum dunia. tidak akan dibedakan, mau orang islam atau non muslim, begitu mendapatkan rezekinya dengan cara yang tidak halal, maka akan diluruskan juga. Tak ada seorang polisi ketika menangkap pencuri ditanya dulu, “bapak agamanya apa? oh muslim, baik kalo begitu tidak jadi ditangkap, kasih tausiah saja”. Tidak mungkin, mau islam atau non islam tetap diproses, selesaikan, hukum umum.

yang menarik bukan itu, ketika ada seseorang mencari rezeki bismillah dengan imannya, dengan keyakinannya. Ada orang bertanya kepada Alloh, “ya Alloh kami minta keadilan, ada orang non muslim, dia tidak puasa, tidak sholat, tidak zakat masa bisa mendapatkan  kemudahan dalam mencari rezeki nya?. Kami yang sholat yang puasa yang berhaji yang beribadah harusnya ada perbedaan, ada kemudahan dalam menapatkannya.” Maka Alloh turunkan ayat khusus yang diberikan hanya kepada orang-orang yang beriman, →QS Al baqaroh ayat 172.

QS 2 ayat 168, ya ayyuhannas.. Hai Manusia (muslim atau non muslim), tapi ketika menyebutkan di ayat 172 berubah dari naas menjadi aamanuu, ya ayyuhaladziina aamanuu.. kalau sudah aamanu berarti hanya mengikat orang yang beriman saja (Islam).

Pada ayat 168 ada kuluu, di ayat 172 ada kuluu, tp yang hebat di ayat 168 mimma fil ardhi halaalan thoyyiba pada ayat 172 kalimat halalnya dibuang, kulu min thoyyibaati maa rozaqnakum. Halalnya dibuang Thoyyibnya dijamakkan, Thoyyibaat.

Ketika Alloh meminta orang-orang yang beriman berusaha, bekerja, beraktifitas disebut imannya dihilangkan halalnya. Kenapa ketika menyentuh orang-orang yang beriman minta dia bekerja kalimat halalnya dibuang?  karena orang-orang beriman itu otomatis dengan imannya akan menuntut dia mencari yang halal.  

Jadi ketika dia mengucapkan Bismillah dalam langkahnya, itu mustahil langkah bismillahnya itu melangkahkan kepada yang haram. Ketika dia mengucapkan Bismillah dalam pekerjaannya itu imannya otomatis akan menuntun kepada yang halal, jadi kalau ada orang yang merasa beriman, mengucapkan kalimat Alloh dalam pekerjaanya tapi dia mengerjakan yang haram dalam pencariannya, ada yang salah/keliru dengan imannya.

Kalau ada orang-orang yang mengerjakan sesuatu dengan Bismillah, merasa diawasi Alloh dengan maknanya bukan hanya kalimat yang mengalir dilisannya saja, maka sifat Rohman Alloh diturunkan kepada dirinya saat di dunia. Arrohman maha pemilik segala keluasan dunia, maarozaqnakum, maka kami mudahkan dia mendapatkan rezeki. Bukan dia yang lelah mencarinya. Kami yang berikan (kata Alloh) bukan kamu yang lelah mencarinya.

Kalau kita mencoba meningkatkan iman kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, kemudian diterapkan dalam aktifitas kehidupan, makan bismillah, minum bismillah, merawat anak bismillah, bekerja bismillah, maka Alloh akan berikan naungan dalam kehidupan kita yang tidak akan pernah diberikan kepada orang-orang yang tidak bismillah dalam kehidupannya. 

Apalagi kalau dibuktikan dengan amal sholeh. Jadi bukan kerjanya cuman bismillah saja, saat Anda bekerja waktu sholat Anda sholat, waktu baca Alquran Anda baca Alquran, apalagi kalau Anda melakukan amalan yang tidak dikerjakan manusia pada umumnya, seperti pada malam hari, orang tidur Anda bangun. Siang, orang makan Anda puasa, mendapatkan istirahat orang lain istirahat Anda membaca Alquran.

Jika Iman disandingkan dengan takwa maka yang terjadi luar biasa dahsyat. →QS 7 ayat 96.

Rezeki

QS Al A’rof ayat 96

Iman saja plus iman, kerja saja plus iman, beraktifitas plus iman itu akan memudahkan rezeki yang diturunkan Alloh kepada kita, apalagi rumus qurannya surat 7 ayat ke 96, kalau kita tambah imannya plus takwa, saat bekerja sholat tidak tertinggal misalnya. Pasti kami (kata Alloh) bukakan pintu keberkahan rezeki  baik dari langit atau dari bumi. Kalau sudah pintu langit dan bumi dibuka tidak ada kesulitan, dimudahkan dalam hidup. Pintu langit keberkahan dan pintu bumi kemudahan. Jadi kalau pintu langit dan bumi sudah dibuka oleh Alloh, dimana lagi celah kesulitan akan didapati?. Mustahil.

Inspirasi
This entry was posted in Kajian and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Get Adobe Flash player