Umur berapa janin ditiupkan ruh?

Share

Kebanyakan ulama klasik berpendapat bahwa ditiupkannya janin pada usia ke-120 hari berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud yg ada dalam shahihain. Kebanyakan berpedoman kepada redaksi al-Bukhari. Sedangkan kalau membaca Shahih Muslim maka jelas nash bahwa peniupan ruh itu ada pada hari keempatpuluh itu sendiri, bukan empat puluh kali tiga.

Tapi itu bukan riwayat Ibnu Mas’ud melainkan riwayat Hudzaifah bin Asid yg disebutkan oleh Muslim setelah hadits Ibnu Mas’ud.

يَدْخُلُ الْمَلَكُ عَلَى النُّطْفَةِ بَعْدَ مَا تَسْتَقِرُّ فِي الرَّحِمِ بِأَرْبَعِينَ، أَوْ خَمْسَةٍ وَأَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Malaikat masuk ke mani setelah dia berdiam di rahim selama empat puluh atau empat puluh lima malam….”

Muslim menyebutkan riwayat Hudzaifah ini dgn beberapa mutabi’. Yang dijadikan riwayat utama adalah riwayat Amr bin Dinar. Sementara riwayat mutabi’ adalah riwayat Abu Zubair, Ikrimah bin Khalid dan Abu Kultsum, semua dari Abu Thufail ‘Amir in Watsilah RA (sahabat Nabi yang terakhir meninggal dunia), dari Hudzaifah bin Asid. Jadi ini sahabat meriwayatkan dari sahabat.
Cuma saya ngga paham kenapa Syekh Muhammad Fuad Abdul Baqi yg memberi nomor shahih muslim ini menjadikan nmor riwayat ini dua yaitu 2544 dan 2645, padahal itu sama-sama dari Abu Thufail dari Hudzaifah. Harusnya sih disamakan nomornya dan riwayat utama tetap riwayat Amr bin Dinar dan yg lain adalah mutabi’.

Apakah ada pertentangan antara hadits Hudzaifah bin Asid dgn hadits Ibnu Mas’ud?

Kalau kita merujuk ke shahih Muslim maka tidak akan ada pertentangan, karena redaksi yg dipergunakan Muslim ada tambahan kata (فِي ذَلِكَ) yang tidak ada dalam Shahih Bukhari. Sehingga artinya dijadikan segumpal darah pada masa itu juga (masa empat puluh hari itu) kata dzalika nya merujuk kepada arba’iin yauman itu sendiri dan bukan ditambahkan empat puluh yg lain.

Perbandingan riwayat Al Bukhari dengan Muslim:

1.   Al-Bukhari meriwayatkannya dari Hasan bin Rabi’, Umar bin Hafsh, Hisyam bin Abdul Malik.
2. Muslim melalui Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Numair. Lalu menguatkannya dgn riwayat Utsman bin Abi Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim, tapi tidak menyebut redaksi lengkap. Sehingga kita bisa katakan bahwa redaksi (في ذلك) itu positif dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Numair. Dan mereka tak perlu diragukan lagi terutama Abu Bakar bin Abi Syaibah penulis Mushannaf.

Menurut Dr Abdul Majid Az-Zindani yg memang seorang scientis dan juga ulama, menurut penelitan ilmiyyah pembentukan segumpal darah dan tulang itu memang telah terjadi di empat puluh hari pertama, bukan di hari ke delapan puluh dan seratus dua puluh. Adapun ruh tentunya tidak ada yg tahu.
Wallahu a’lam.


Oleh Anshari Taslim

This entry was posted in iNfo and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Get Adobe Flash player